mediakrimsustnipolri.com
SOFIA – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat usai muncul ancaman serangan terhadap aset Washington di Eropa.
Dua pesawat tanker KC-135 milik AS dilaporkan meninggalkan Bulgaria menuju tujuan yang belum diketahui, sebagaimana dilansir Tribunstyle dari kantor berita Iran International.
Pesawat tersebut sebelumnya ditempatkan di Pangkalan Udara Bezmer sejak 21 Juli untuk menjalankan misi pelatihan.
Keberadaannya menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa Iran mempertimbangkan serangan terhadap target AS di Bulgaria dan Siprus.
Menteri Pertahanan Bulgaria, Dimitar Stoyanov mengatakan pemerintahnya belum menerima informasi mengenai ancaman langsung. Sofia juga menegaskan pengerahan pesawat AS sebelumnya hanya berkaitan dengan latihan di wilayah udara sekutu.
Meski begitu, Teheran menuduh keberadaan aset tersebut berkaitan dengan agresi terhadap Iran.
Perkembangan ini terjadi ketika hubungan Washington dan Teheran kembali berada dalam kondisi sangat tegang. Negosiasi kedua negara disebut praktis terhenti di tengah tekanan ekonomi yang semakin besar terhadap Iran.
Presiden AS Donald Trump sejauh ini memilih meningkatkan tekanan ekonomi dibanding melancarkan serangan baru terhadap infrastruktur Iran. Washington bahkan menyiapkan sanksi ekonomi baru yang disebut akan memberikan tekanan lebih besar terhadap Teheran.
Iran membalas tekanan tersebut dengan peringatan bahwa setiap ancaman akan mendapatkan respons yang sangat keras. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi bahkan mengancam akan memberikan respons “menghancurkan” jika terjadi kesalahan perhitungan.
Di saat yang sama, televisi pemerintah Iran menampilkan fasilitas yang disebut sebagai pabrik produksi rudal balistik bawah tanah. Teheran mengklaim industri pertahanannya tetap mampu meningkatkan produksi senjata meski menghadapi serangan dan sanksi.
Iran juga menegaskan strategi pertahanannya kini semakin ofensif dan tidak akan menyerah terhadap tekanan AS.
Di tengah ancaman tersebut, upaya diplomasi sebenarnya masih berjalan melalui perantara Mesir dan Oman. Namun Donald Trump menyatakan belum ada kemajuan dalam pembicaraan, sehingga peluang deeskalasi kembali menghadapi ketidakpastian.
Tim redaksi







