mediakrimsustnipolri.com
SUKABUMI — Kondisi kesehatan pengungsi di wilayah Bantargadung mulai menjadi perhatian serius. Dalam pemeriksaan terbaru, belasan warga terdampak bencana harus mendapatkan penanganan medis akibat gangguan kesehatan, dengan kasus gastritis atau gangguan lambung tercatat sebagai keluhan terbanyak.
Kepala Puskesmas Bantargadung, Siska Santika, mengungkapkan sebanyak 14 pengungsi menjalani pemeriksaan kesehatan dalam satu hari terakhir. Mereka berasal dari berbagai kelompok usia, meski didominasi kalangan dewasa. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh guna memastikan tidak ada kondisi yang terlewat di tengah situasi pengungsian. ( 03/03/2026)
“Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan sebagian besar pasien mengeluhkan nyeri lambung atau gastritis,” ujarnya.

Peningkatan kasus gangguan lambung ini diduga berkaitan erat dengan perubahan pola makan para pengungsi. Selain keterbatasan fasilitas, momentum bulan Ramadan turut memengaruhi jadwal konsumsi makanan. Perubahan waktu makan, keterbatasan asupan bergizi, hingga kondisi psikologis akibat bencana menjadi faktor pemicu memburuknya kondisi lambung.
Tim medis tak hanya memberikan obat, tetapi juga melakukan edukasi terkait pola makan yang lebih teratur dan aman selama berada di pengungsian. Pengawasan lanjutan pun dilakukan untuk mencegah komplikasi yang berpotensi muncul apabila kondisi tidak segera ditangani.
Di sisi lain, persoalan logistik sempat menjadi tantangan. Pada awal masa pengungsian, lokasi belum dilengkapi dapur umum. Namun, sejak malam sebelumnya bantuan makanan mulai disalurkan. Distribusi logistik tersebut diharapkan mampu memperbaiki pola konsumsi para pengungsi serta menekan potensi gangguan kesehatan lanjutan.
Puskesmas Bantargadung memastikan layanan kesehatan tetap siaga selama 24 jam penuh. Petugas medis berjaga untuk merespons setiap keluhan secara cepat dan tepat, sebagai bentuk komitmen menjaga keselamatan dan kesehatan warga terdampak.
Upaya terpadu antara layanan kesehatan dan distribusi logistik kini menjadi kunci agar kondisi pengungsi tetap stabil, sekaligus mencegah munculnya persoalan kesehatan yang lebih serius di tengah situasi darurat.
Reporter:Agus suteja






