mediakrimsustnipolri.com
JAKARTA, 14 September 2026 – Rumah Perlindungan Anak (RPA) Indonesia terus hadir langsung di tengah masyarakat dengan membagikan buku dan perlengkapan belajar, serta membangun kelompok belajar, sekolah, dan program les gratis.
Sejak 2018, anak-anak dari keluarga kurang mampu telah mendapatkan pembelajaran gratis, khususnya mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika yang dilaksanakan setiap hari Jumat dan Sabtu.
Sebagian besar kader RPA Indonesia adalah guru yang terpanggil untuk berbagi ilmu dan mendampingi anak-anak. Fokus pendampingan menyasar kawasan kumuh dan wilayah yang rentan terhadap kekerasan, seperti Warakas dan bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta.
Untuk menjangkau masyarakat, RPA Indonesia melakukan sosialisasi secara langsung dan humanis kepada anak, orang tua, dan tokoh masyarakat. Pendekatan edukatif dilakukan melalui pertunjukan badut dan pemutaran film produksi RPA, agar pesan perlindungan anak dapat diterima hingga ke akar rumput.
Ketua Umum RPA Indonesia, Jeannie Latumahina, menegaskan bahwa negara ini sudah memiliki banyak konsep dan program yang baik. Namun sosialisasi hingga ke akar rumput masih sangat memprihatinkan.
“Keberhasilan sebuah program tidak cukup diukur dari banyaknya kebijakan, melainkan dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, terutama anak-anak dan keluarga yang membutuhkan,” ujar Jeannie.
Karena itu, RPA Indonesia memilih untuk hadir nyata, turun langsung, mendengar, mendidik, dan mendampingi. Tujuannya agar perlindungan dan pendidikan anak tidak berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat.
Rumah Perlindungan Anak (RPA) Indonesia adalah organisasi yang berfokus pada pemenuhan hak pendidikan dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan daerah rentan. Sejak 2018, RPA Indonesia konsisten menjalankan program pendidikan gratis dan pendampingan langsung ke masyarakat.
Redaksi







