mediakrimsustnipolri.com

Hakikat Penilaian dalam Al-Qur’an, Hadits, dan Ajaran Suluk Wujil Sunan Bonang_

 

BANDUNG – Pandangan mata kerap menipu. Apa yang tampak di permukaan belum tentu mencerminkan hakikat sejati seseorang. Menilai dan menghakimi hanya dari rupa, kedudukan, atau keadaan yang terlihat dapat melahirkan ketidakadilan. ( 7 / 7 / 2026 )

Hal tersebut ditegaskan Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA dalam renungan yang merujuk pada Al-Qur’an, hadits, dan kearifan Suluk Wujil karya Sunan Bonang.

Hanya Allah yang Mengetahui Isi Hati

“Mata hanya melihat kulit luar, tapi tak sanggup menembus apa yang tersimpan di dada. Kita tak tahu siapa yang menyimpan amal mulia di balik penampilan sederhana, atau sebaliknya,” ujar Oki.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat:13 bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. Rasulullah SAW juga bersabda dalam HR Muslim bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, melainkan hati, niat, dan amal.

Hikmah Suluk Wujil Sunan Bonang

Ajaran Suluk Wujil menekankan bahwa segala yang kasat mata hanyalah bayang. Dunia ibarat wayang: tampak nyata namun tidak kekal. Yang utama adalah hati yang bersih, niat lurus, dan ketaatan tulus kepada Sang Pencipta. Mengenal diri sendiri menjadi jalan mengenal Tuhan, sekaligus kunci agar tidak keliru menghakimi sesama.

Pelajaran dari Sahabat Nabi

Sejarah mencatat Julaibib RA yang dipandang rendah masyarakat, namun mulia di sisi Rasulullah dan Allah. Begitu pula Uwais Al-Qarni, hidup sederhana jauh dari sorotan, tapi kesucian hatinya menjadikannya teladan.

“Jangan jadikan mata sebagai hakim tunggal. Pelihara hati agar tak mudah berprasangka. Hakikat seseorang bukan pada apa yang terlihat hari ini, melainkan pada kebaikan yang ia tanam sepanjang hidupnya,” tutup Oki Prasetiawan.

Redaksi Renungan dan Nilai Keislaman