mediakrimsustnipolri.com
SUKABUMI – Peringatan Hari Pangan Sedunia menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk memperkuat strategi pembangunan ketahanan pangan daerah. Di tengah tantangan perubahan pola konsumsi masyarakat, kebutuhan gizi, serta tuntutan kemandirian pangan, optimalisasi potensi pangan lokal dinilai menjadi salah satu langkah strategis yang tidak boleh diabaikan.
Melalui rangkaian kegiatan peringatan Hari Pangan Sedunia yang mengusung tema “Innovate Today, Nourish Tomorrow”, Pemerintah Kabupaten Sukabumi mendorong penguatan inovasi, diversifikasi pangan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor guna menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut bukan sekadar agenda peringatan tahunan, melainkan menjadi ruang edukasi sekaligus ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk kembali melihat kekayaan sumber daya pangan yang dimiliki Kabupaten Sukabumi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi, dr. Gatot Sugiharto, Sp.B, MARS, M.Kom., menegaskan bahwa daerah ini memiliki potensi pangan yang sangat besar. Kekayaan tersebut harus dikelola secara serius agar mampu menjadi kekuatan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus mendukung perekonomian daerah.
Menurut Gatot, persoalan ketahanan pangan tidak cukup hanya diselesaikan melalui peningkatan produksi. Diperlukan perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, terutama dalam mengenali, memanfaatkan, serta membiasakan konsumsi pangan lokal yang beragam dan bergizi.
“Ketahanan pangan adalah milik kita bersama. Kabupaten Sukabumi dikaruniai berbagai potensi pangan yang luar biasa. Tidak semua daerah memiliki kekayaan seperti yang kita miliki. Karena itu, potensi ini harus diberdayakan secara maksimal melalui inovasi dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat,” tegas Gatot.
Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Pemerintah
Gatot menekankan, keberhasilan membangun ketahanan pangan tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak agar upaya pengembangan pangan lokal dapat berjalan secara terintegrasi, mulai dari proses produksi, pengolahan, distribusi, pemasaran hingga konsumsi masyarakat.
Untuk itu, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi mendorong konsep kolaborasi lima unsur atau ABCGM, yakni Academician, Business, Community, Government, dan Media.
Konsep tersebut menempatkan akademisi sebagai penggerak penelitian dan pengembangan teknologi pangan, pelaku usaha sebagai penguat industri pengolahan dan pemasaran, komunitas sebagai penggerak perubahan di masyarakat, pemerintah sebagai penyusun kebijakan dan fasilitator, serta media sebagai sarana penyebarluasan informasi dan edukasi publik.
“Ketahanan pangan membutuhkan kerja bersama. Akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, dan media harus berjalan beriringan. Tidak boleh ada sektor yang berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi inilah yang menjadi kekuatan untuk mengembangkan potensi pangan daerah,” ungkapnya.
Menurutnya, keterlibatan media juga sangat penting untuk membangun kesadaran publik bahwa pangan lokal bukan produk yang tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, pangan lokal memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui kreativitas, teknologi pengolahan, dan inovasi produk.
Sukun dan Umbi-umbian, Potensi Pangan Masa Depan
Salah satu isu penting yang diangkat dalam peringatan Hari Pangan Sedunia adalah perlunya mengembalikan perhatian masyarakat terhadap pangan lokal, termasuk sukun dan berbagai jenis umbi-umbian.
Sukun dinilai memiliki potensi sebagai alternatif sumber karbohidrat dengan peluang pengembangan berbagai produk olahan. Komoditas ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam memperkaya sumber pangan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM.
Gatot menyayangkan apabila generasi muda justru semakin jauh dari pengenalan pangan tradisional, sementara berbagai makanan dari luar negeri semakin populer dan menjadi bagian dari tren konsumsi.
“Jangan sampai anak-anak kita hanya lebih mengenal makanan Korea, takoyaki, dan berbagai makanan luar lainnya, tetapi melupakan pangan lokal seperti sukun dan umbi-umbian. Padahal, kita mempunyai sumber pangan alami yang sangat beragam,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa diversifikasi pangan bukan sekadar mengganti satu jenis makanan dengan jenis lainnya. Lebih jauh, diversifikasi merupakan upaya membangun pola konsumsi yang lebih beragam sehingga masyarakat tidak terlalu bergantung pada satu sumber bahan pangan.
Melalui pengenalan pangan lokal sejak dini, diharapkan generasi muda memiliki pemahaman bahwa kekayaan pangan daerah merupakan bagian dari identitas sekaligus modal pembangunan masa depan.
Edukasi Pangan Menyasar Generasi Muda
Untuk memperkuat pemahaman masyarakat, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi menghadirkan berbagai media edukasi indoor dan outdoor dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Sarana edukasi dirancang secara menarik dan interaktif agar mudah dipahami oleh berbagai kelompok masyarakat, mulai dari siswa sekolah dasar, SMP, SMA hingga komunitas masyarakat.
Salah satu yang menarik perhatian adalah rumah boneka atau dollhouse yang dibuat menggunakan bahan-bahan bekas dan diolah secara kreatif oleh jajaran Bidang Diversifikasi Pangan.
Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa edukasi pangan dapat dikemas dengan pendekatan kreatif dan ramah lingkungan. Masyarakat tidak hanya diajak mengenal berbagai sumber pangan, tetapi juga diperkenalkan pada pentingnya pemanfaatan barang bekas dan kepedulian terhadap lingkungan.
Upaya edukasi seperti ini menjadi penting karena perubahan pola konsumsi tidak dapat dilakukan secara instan. Pengetahuan mengenai gizi, keberagaman pangan, serta pemanfaatan sumber pangan lokal perlu ditanamkan secara berkelanjutan, khususnya kepada anak-anak dan generasi muda.
Tiga Bidang Menjadi Ujung Tombak Penguatan Pangan
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi memiliki tiga bidang utama yang saling berkaitan, yaitu bidang sumber daya ekonomi dan ketersediaan pangan, bidang diversifikasi pangan, serta bidang kerawanan pangan.
Ketiga bidang tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung kebijakan ketahanan pangan daerah.
Bidang ketersediaan pangan berperan dalam mendukung pemantauan dan penguatan ketersediaan sumber pangan. Bidang diversifikasi pangan mendorong keberagaman konsumsi dan pemanfaatan pangan lokal, sedangkan bidang kerawanan pangan berperan dalam mengidentifikasi serta mendukung penanganan persoalan kerawanan pangan masyarakat.
Melalui pembagian tugas tersebut, penguatan ketahanan pangan diharapkan tidak hanya berorientasi pada ketersediaan bahan makanan, tetapi juga memperhatikan akses masyarakat, kualitas konsumsi, dan pemerataan pemenuhan kebutuhan pangan.
Gatot menilai, edukasi pangan harus berjalan seiring dengan upaya menjaga ketersediaan pangan. Sebab, masyarakat membutuhkan akses terhadap bahan pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau.
Ketahanan Pangan Harus Dimulai dari Meja Makan Keluarga
Persoalan pola konsumsi masyarakat juga menjadi perhatian dalam peringatan Hari Pangan Sedunia. Perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan yang kurang memperhatikan keseimbangan gizi menjadi tantangan tersendiri dalam membangun masyarakat yang sehat.
Karena itu, kesadaran memilih dan mengolah makanan bergizi harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Gatot menegaskan, ketahanan pangan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Implementasinya harus menyentuh seluruh tingkatan pemerintahan hingga lingkungan rumah tangga.
“Kita ingin ketahanan pangan ini tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi benar-benar menjadi kesadaran bersama. Dimulai dari negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan kelurahan, sampai akhirnya di tingkat rumah tangga,” tegasnya.
Menurutnya, keluarga merupakan fondasi paling dasar dalam membangun ketahanan pangan. Ketersediaan makanan yang cukup, beragam, bergizi, seimbang, dan aman harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, keberhasilan ketahanan pangan tidak hanya dilihat dari banyaknya bahan pangan yang tersedia, tetapi juga dari kemampuan setiap keluarga memenuhi kebutuhan konsumsi secara berkualitas.
Kolaborasi Lintas Daerah, Perkuat Strategi Ketahanan Pangan
Rangkaian peringatan Hari Pangan Sedunia tersebut juga didahului dengan kegiatan High Level Meeting atau pertemuan tingkat tinggi bersama mitra dari empat kabupaten dan satu kota di Hotel Mercure.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun koordinasi, menyamakan persepsi, serta memperkuat komitmen antardaerah dalam menghadapi berbagai tantangan sektor pangan.
Kolaborasi lintas daerah menjadi penting mengingat persoalan pangan tidak mengenal batas administratif. Ketersediaan, distribusi, stabilitas pasokan, perubahan harga, serta potensi kerawanan pangan membutuhkan koordinasi dan kerja sama berbagai pemangku kepentingan.
Melalui forum tersebut, diharapkan terbentuk sinergi yang semakin kuat dalam mendukung pembangunan ketahanan pangan, baik di tingkat regional maupun daerah masing-masing.
Bukan Sekadar Seremonial, Harus Berdampak bagi Masyarakat
Peringatan Hari Pangan Sedunia harus menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana potensi pangan daerah benar-benar dimanfaatkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kekayaan sumber daya pangan Kabupaten Sukabumi merupakan modal besar. Namun, potensi tersebut membutuhkan pengelolaan, inovasi, edukasi, dan dukungan kebijakan yang berkesinambungan agar tidak hanya menjadi kekayaan alam yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana memperluas pemanfaatan pangan lokal, meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat peran pelaku usaha, serta membangun kebiasaan konsumsi pangan yang lebih sehat di tengah masyarakat.
Gatot berharap seluruh elemen masyarakat dapat mengambil bagian dalam gerakan penguatan ketahanan pangan. Menurutnya, masa depan pangan daerah tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam menjaga serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
“Potensi pangan di Bumi Sukabumi sangat luar biasa. Mari kita berkolaborasi dan bersama-sama menciptakan Sukabumi yang semakin kuat dalam ketahanan pangan,” pungkasnya.
Melalui semangat “Innovate Today, Nourish Tomorrow”, Pemerintah Kabupaten Sukabumi diharapkan mampu menjadikan pengembangan pangan lokal sebagai salah satu kekuatan pembangunan daerah.
Lebih dari sekadar memperingati Hari Pangan Sedunia, momentum ini harus melahirkan gerakan nyata: pangan lokal semakin dikenal, diversifikasi konsumsi semakin membudaya, masyarakat semakin sadar gizi, dan ketahanan pangan keluarga semakin kuat.
Sebab, kemandirian pangan tidak dibangun hanya melalui slogan, melainkan melalui kerja nyata, inovasi berkelanjutan, dan kolaborasi seluruh unsur masyarakat. ( resi)







