mediakrimsustnipolri.com

 

Sukabumi — Ironi tengah melanda Desa Neglasari, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Di tengah prestasinya sebagai Juara 1 tingkat Kecamatan Cibadak dan peringkat ke-15 Kabupaten Sukabumi dalam capaian pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 100%, kondisi infrastruktur desa justru jauh dari layak. Jalan utama penghubung empat kedusunan di desa tersebut kini rusak berat, nyaris tak tersentuh pembangunan selama puluhan tahun. ( 3 / 11/ 2025).

Kepala Desa Neglasari, Ukat Sukatman, yang ditemui Sorotan Desa pada Senin (3/11/2025), mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi yang dialami wilayahnya. Ia didampingi Ketua BPD, Pahrudin, saat menjelaskan situasi yang dihadapi oleh warganya.

> “Empat kadusunan kami—Salagombong, Caringin, Tugu, dan Legok—sampai sekarang belum tersentuh pembangunan jalan yang memadai. Sudah puluhan tahun kami berjuang, baik lewat proposal ke pemerintah daerah maupun melalui pendekatan ke pihak perkebunan sawit milik BUMN yang ada di wilayah kami, tapi hasilnya masih nihil,” tutur Ukat dengan nada kecewa.

 

Menurut Ukat, sebagian besar jalur utama yang menghubungkan antar-dusun melewati area perkebunan sawit milik BUMN. Jalan tanah berbatu yang licin saat hujan dan berdebu di musim kemarau menjadi rintangan besar bagi warga, terutama para petani yang menggantungkan hidup dari hasil bumi.

Potensi Besar di Tengah Keterbatasan

Desa Neglasari sebenarnya memiliki potensi alam yang sangat menjanjikan. Dengan luas wilayah yang dihuni sekitar 6.250 jiwa atau 2.300 KK, sekitar 70% warganya hidup dari sektor pertanian, seperti padi, sayur mayur, ubi jalar, kacang tanah, hingga buah-buahan seperti manggis dan pepaya.

Selain itu, potensi air tanah dan air permukaan di wilayah ini melimpah, menjadi modal besar bagi pengembangan sektor pertanian dan peternakan. Namun, akses jalan yang rusak parah membuat produktivitas warga tidak maksimal.

> “Kalau jalannya bagus, hasil pertanian bisa cepat dijual ke pasar. Sekarang banyak yang rugi karena ongkos angkut mahal dan waktu tempuh lama,” ujar Ketua BPD Pahrudin.
“Bahkan, selepas jam lima sore, aktivitas di desa nyaris berhenti karena penerangan jalan juga masih minim,” tambahnya.

 

Prestasi Pajak dan Komitmen Kebersihan

Meski terbatas secara infrastruktur, Desa Neglasari patut berbangga dengan disiplin warganya dalam membayar pajak. Pada tahun 2024, desa ini berhasil mencapai pelunasan PBB 100%, menjadikannya yang terbaik di tingkat kecamatan dan masuk 15 besar kabupaten.

> “Salah satu kadus kami bahkan mendapat hadiah umrah dari Pemkab atas prestasi tersebut,” kata Ukat dengan bangga.

 

Selain itu, desa ini juga dikenal dengan program “Minggu Bersih”, yang menjadi bagian dari komitmen menjaga lingkungan. Lebih dari 80% warga kini telah terbiasa menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.

Harapan dari Kopdes Merah Putih

Untuk tahun 2025, Pemerintah Desa Neglasari tengah fokus pada penguatan sektor ketahanan pangan melalui Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Program ini diarahkan untuk meningkatkan sarana produksi pertanian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

> “Kami ingin masyarakat bisa mandiri, kuat secara ekonomi, dan produktif di sektor pangan. Kopdes Merah Putih akan menjadi wadah agar semua potensi ini bisa berkembang bersama-sama,” jelas Ukat.

 

Seruan untuk Pemerintah dan BUMN

Menutup perbincangan, Ukat menyampaikan harapan besar kepada pemerintah daerah dan pihak terkait agar memberi perhatian lebih terhadap kondisi infrastruktur desanya.

> “Kami sudah buktikan komitmen sebagai warga negara yang taat pajak dan menjaga kebersihan lingkungan. Sekarang kami hanya berharap, Pemkab Sukabumi, Pemerintah Provinsi, dan pihak BUMN bisa turun tangan memperbaiki jalan desa kami,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, Desa Neglasari memiliki “sejuta potensi” untuk berkembang menjadi desa maju, unggul, dan berdaya. Namun tanpa infrastruktur yang layak, semua itu akan terus terhambat.

> “Kami ingin Desa Neglasari menjadi Desa Mubarokah — Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah,” pungkasnya penuh harap.

 

Reporter:Asep lodaya