mediakrimsustnipolri.com

Sukabumi — Polemik yang menyeret nama SMK Taruna Tunas Bangsa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai menemukan titik terang. Isu penyegelan sekolah yang sempat beredar luas di masyarakat disebut tidak sepenuhnya benar. Pihak sekolah menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah penyegelan, melainkan konflik internal yang belum terselesaikan.

Kepala SMK Taruna Tunas Bangsa, Raihan, akhirnya angkat bicara untuk meluruskan kabar yang dinilai berkembang liar.

“Informasi yang beredar itu perlu diluruskan. Tidak ada penyegelan seluruh sekolah seperti yang ramai dibicarakan. Kalau pun ada, itu hanya di ruang perpustakaan dan berlangsung beberapa jam saja,” ujarnya kepada Selasa (21/4/2026).

Ia menjelaskan, tindakan tersebut bukan bentuk penutupan aktivitas sekolah, melainkan upaya untuk memancing kehadiran pihak yayasan agar segera turun tangan menyelesaikan persoalan.

“Penyegelan itu hanya sebagai pemantik. Tujuannya supaya yayasan hadir dan kita bisa duduk bersama mencari solusi ke depan,” katanya.

Namun di balik klarifikasi tersebut, realita yang dihadapi sekolah jauh lebih kompleks. Konflik internal yang terjadi telah berdampak langsung pada kenyamanan siswa serta kepercayaan orang tua.

Sebagai langkah cepat, pihak sekolah membuka ruang dialog dengan orang tua dan siswa. Dari hasil pertemuan tersebut, diambil keputusan penting terkait keberlanjutan pendidikan siswa.

“Kami sudah berdiskusi dengan orang tua dan siswa. Dari hasil itu, orang tua memutuskan untuk memutasikan siswa kelas 10 dan 11,” jelas Raihan.

Keputusan ini diambil demi memastikan kenyamanan dan kepastian belajar bagi siswa di tengah situasi yang dinilai tidak kondusif.

Sementara itu, untuk siswa kelas 12, pihak sekolah memastikan tetap bertanggung jawab penuh, terutama terkait kelulusan dan penerbitan ijazah.

“Kami akan bertanggung jawab penuh terhadap ijazah siswa kelas 12. Pelaksanaan ujian akhir, yaitu Uji Kompetensi (Ujikom), akan dilaksanakan di SMK Dwiwarna Warungkiara,” tegasnya.

Ke depan, nasib SMK Taruna Tunas Bangsa masih menunggu sikap dari pihak yayasan. Pihak sekolah memilih untuk tidak berspekulasi dan akan memprioritaskan kepentingan siswa.
“Kami saat ini fokus pada anak-anak, khususnya kelas 12, karena itu yang paling mendesak. Setelah itu, baru kami akan membangun komunikasi lebih lanjut dengan yayasan,” pungkasnya.

Reporter: Rzl