mediakrimsustnipolri.com

Sukabumi –  Mahmud (45), warga terdampak yang saat ini mengungsi di tenda pengungsian.
Lokasi: Kampung Ci Jambe

Waktu: Bulan Ramadhan
Bapak Mahmud menuturkan, tanda-tanda pergerakan tanah sebenarnya sudah mulai terlihat sejak hari Selasa. Saat itu, retakan kecil mulai muncul, namun belum menimbulkan kekhawatiran besar. ( 02/03/2026).

“Waktu hari Selasa belum terjadi apa-apa, hanya retak sedikit. Tapi pas malam Jumat, hujan nggak berhenti-berhenti, retaknya sampai besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pergerakan tanah terjadi secara bertahap, tidak sekaligus. Sesekali terdengar suara kecil seperti kayu patah.
“Getaran ada, tapi kecil. Gesernya sedikit-sedikit, nggak sekaligus,” katanya.

Akibat kejadian tersebut, sejumlah bangunan terdampak, termasuk rumah warga dan bangunan pesantren yang dilaporkan roboh. Warga pun panik dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Menurut informasi dari Ketua RT setempat, jumlah warga terdampak di RT 02 RW 05 mencapai sekitar 170 Kepala Keluarga (KK). Namun, hingga saat wawancara dilakukan, baru sekitar 140 KK yang tercatat berada di pengungsian. Sebagian lainnya memilih mengungsi ke rumah kerabat.

“Kalau nggak ke rumah orang tua, ya ke mana lagi,” ucap Mahmud.
Selama berada di pengungsian, kebutuhan dasar menjadi perhatian utama. Bantuan dari Kepala Desa berupa mie instan telah disalurkan, namun warga masih membutuhkan perlengkapan tambahan, terutama tikar untuk alas tidur.
“Kesulitannya sekarang ini perlu tikar, Pak.

Semalam mendadak beli 10 tikar sekitar jam 12 malam,” ungkapnya.
Meski kondisi malam hari terasa dingin, Mahmud bersyukur masih bisa bertahan bersama keluarga dan warga lainnya.
Terkait dugaan penyebab bencana, wartawan menyinggung adanya aktivitas galian dan lahan yang kini tampak gundul di bagian atas permukiman.

Mahmud mengaku tidak mengetahui secara pasti terkait izin atau sosialisasi kegiatan tersebut, karena kesehariannya bekerja di Bogor dan jarang berada di rumah.
Saat ditanya mengenai harapannya ke depan, Mahmud berharap kondisi bisa kembali normal seperti sediakala.

“Harapannya pengen seperti biasa lagi. Intinya pengen ada bantuan renovasi rumah,” katanya.
Mahmud juga menyebutkan bahwa selama hampir 22 tahun tinggal di wilayah tersebut, baru kali ini terjadi bencana pergerakan tanah.
“Selama ini belum pernah ada. Baru ini pertama,” pungkasnya.

Reporter  : Rzl