mediakrimsustnipolri.com

 

Oleh: Jeannie Latumahina

Jakarta ,28 Oktober 2026  — Dunia terus berlomba mengembangkan teknologi energi yang bersih, aman, dan berkelanjutan. China menjadi salah satu pelopor melalui pengoperasian reaktor garam cair (Molten Salt Reactor/MSR) berbasis thorium untuk skala eksperimental di Wuwei, Provinsi Gansu.

Reaktor ini memiliki kapasitas termal sekitar 20 megawatt (MW) dan dikembangkan sebagai bagian dari penelitian menuju teknologi yang berpotensi ditingkatkan untuk kebutuhan industri dan pembangkit listrik. China menargetkan pengembangan komersial pada awal 2030-an, meskipun penerapannya masih membutuhkan pengujian dan evaluasi lebih lanjut.

Teknologi tersebut memanfaatkan thorium-232 yang dapat dikonversi menjadi uranium-233, bahan fisil untuk menghasilkan energi nuklir. Sistem garam cair memungkinkan reaktor beroperasi pada suhu tinggi dengan tekanan relatif rendah dibandingkan sejumlah reaktor nuklir konvensional.

Desain tertentu juga dilengkapi sistem keselamatan pasif untuk mengurangi risiko ketika terjadi gangguan. Namun, teknologi ini tetap memerlukan pengawasan ketat terhadap radiasi, material reaktor, dan limbah radioaktif. Potensinya untuk mengurangi kebutuhan pendinginan air dalam jumlah besar juga menarik untuk dikaji, khususnya bagi wilayah dengan keterbatasan air.

Pengembangan reaktor modular membuka peluang pemanfaatan teknologi ini untuk kawasan industri dan daerah terpencil yang memiliki keterbatasan infrastruktur listrik. China juga mengembangkan berbagai teknologi energi nuklir untuk mendukung eksplorasi ruang angkasa.

Sementara itu, integrasi pembangkit nuklir dengan tenaga surya dan angin dapat menjadi pilihan untuk memperkuat kestabilan pasokan listrik. Meski demikian, penerapan setiap teknologi harus disesuaikan dengan kebutuhan, biaya, kondisi geografis, dan standar keselamatan.

Bagi Indonesia, pengembangan thorium memiliki relevansi karena sumber daya mineral yang mengandung unsur tersebut berpotensi ditemukan dalam pengolahan timah di Bangka-Belitung dan zirkon di Kalimantan Barat.

Angka potensi thorium nasional lebih dari 150.000 ton perlu ditelusuri kembali melalui sumber resmi Kementerian ESDM dan data penelitian terkait untuk memastikan status serta dasar perhitungannya.

Jika potensi tersebut terbukti layak dimanfaatkan, thorium dapat menjadi salah satu pilihan jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi, termasuk mengurangi ketergantungan daerah kepulauan terhadap bahan bakar minyak dan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Dalam perkembangan global, teknologi reaktor thorium masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan, sementara penerapan komersial secara luas belum terwujud. China, India, dan sejumlah pengembang di Amerika Serikat terus mengeksplorasi berbagai pendekatan teknologi nuklir generasi baru.

Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat penelitian dan mempelajari teknologi alternatif. Namun, pemanfaatan thorium tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan ketersediaan bahan baku, karena memerlukan fasilitas pengolahan, teknologi reaktor, tenaga ahli, regulasi, serta investasi jangka panjang.

Kerja sama dengan China dapat dipertimbangkan melalui penelitian bersama, alih teknologi, pengembangan reaktor modular, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia.

Kemitraan juga dapat mencakup kajian pengolahan thorium domestik untuk mendukung kemandirian rantai pasok bahan bakar nuklir.

Dalam jangka panjang, peluang pengembangan industri pendukung, produksi isotop, dan kerja sama energi regional dapat dikaji berdasarkan kelayakan ekonomi, kebutuhan pasar, serta ketentuan keselamatan dan lingkungan.

Di bidang eksplorasi ruang angkasa, teknologi nuklir berpotensi menyediakan energi bagi misi jangka panjang di lingkungan ekstrem, termasuk rencana pembangunan fasilitas di Bulan dan eksplorasi Mars.

Namun, teknologi reaktor untuk kebutuhan di bumi tidak serta-merta dapat diterapkan untuk misi luar angkasa karena memiliki persyaratan desain dan operasional yang berbeda. Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam pengembangan teknologi tersebut masih membutuhkan penelitian, penguasaan teknologi, dan kerja sama internasional.

Pada akhirnya, perkembangan thorium di China memberikan pelajaran penting bagi Indonesia bahwa kemandirian energi harus dibangun melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pengembangan teknologi, dan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan nasional.

Kekayaan sumber daya alam perlu diimbangi dengan kemampuan mengolah dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pemilik sumber daya, tetapi harus membangun kapasitas agar mampu menjadi bagian dari pengembangan teknologi energi masa depan.

Red