Mediakrimsustnipolri.com

Sukabumi, Jawa Barat – Di sebuah gang kecil di salah satu wilayah Sukabumi, seorang nenek berusia 70 tahun hidup sendiri di rumah panggung berukuran 3×4 meter. Tak ada anak yang menemani, tak ada penghasilan tetap. Cerita seperti ini, menurut LSM Rakayat Indonesia Berdaya (RIB) DPC Sukabumi, masih banyak ditemukan di sudut-sudut Kota dan Kabupaten Sukabumi.

Berangkat dari kenyataan itu, RIB DPC Sukabumi memutuskan untuk tidak lagi menunggu pengaduan warga datang melapor ke Sekretariat maupun pengaduan langsung ke Lembaga ini. Memasuki periode 2026-2027, organisasi masyarakat sipil ini meluncurkan agenda tahunan bertajuk (Bentuk Kasih) “Merawat Harapan, Menjaga Kemanusiaan” dengan metode belusukan langsung dari rumah ke rumah.

Ketua DPC LSM RIB Sukabumi Lutfi Imanullah mengatakan, konsep belusukan dipilih bukan tanpa alasan. Selama ini, bantuan sosial seringkali berhenti di balai desa atau kantor kelurahan. Padahal, warga yang paling membutuhkan justru mereka yang tidak mampu datang, karena faktor usia, sakit, atau keterbatasan akses.

“Banyak warga yang terlewat. Bukan karena tidak ada bantuan, tapi karena mereka tidak terdengar. Maka kami yang harus datang. Duduk di bale-bale mereka, mendengarkan cerita mereka,” kata Ketua RIB DPC Sukabumi saat Wartawan, Kamis (15/10/2026).

Menurut dia, belusukan bukan sekadar membagikan sembako. Lebih dari itu, belusukan adalah upaya memulihkan martabat. Ketika warga dikunjungi, disapa, dan didengarkan keluh kesahnya, mereka merasa masih menjadi bagian dari masyarakat.

“Yang kami bawa bukan hanya paket bantuan. Yang kami bawa adalah pesan bahwa mereka tidak sendiri. Di Sukabumi masih ada yang peduli,” ujarnya.

Enam Agenda Kemanusiaan Sepanjang Tahun.

Agenda tahunan RIB DPC Sukabumi disusun secara sederhana dan berkelanjutan. Tidak ada seremoni besar, yang ada adalah komitmen untuk hadir secara rutin.

Pertama, Belusukan Kemanusiaan. Tim RIB akan turun setiap bulan, bergiliran menyisir kecamatan di Kota dan Kabupaten Sukabumi. Mulai dari Warudoyong, Gunungpuyuh, Lembursitu di wilayah kota, hingga Sukaraja, Cisaat, Cikembar, dan Cibadak di wilayah kabupaten dan wilayah lainya. Sasarannya adalah lansia sebatang kara, janda prasejahtera, penyandang disabilitas, dan keluarga yang sedang tertimpa musibah.

Kedua, Jumat Berkah. Setiap hari Jumat, relawan RIB akan membagikan berupa santunan. Kegiatan ini sudah berjalan dan akan terus dipertahankan sebagai tradisi kebaikan mingguan.

Ketiga, Pendampingan Hukum Gratis. Sebagai rumah informasi, RIB membuka layanan konsultasi dan pendampingan hukum bagi warga kecil yang berhadapan dengan persoalan hukum. Termasuk memberikan edukasi agar tidak terjadi lagi aksi main hakim sendiri seperti yang pernah terjadi di sejumlah wilayah.

Keempat, Santunan Anak Yatim dan Lansia. Kegiatan ini akan digelar setiap triwulan, terutama menjelang hari besar keagamaan.

Kelima, Edukasi Hukum Masuk Kampung. Penyuluhan dilakukan dengan bahasa sederhana, bahasa kampung, agar mudah dipahami. Materinya seputar bahaya pinjaman online ilegal, kekerasan dalam rumah tangga dan yang lainya, dan pentingnya menyelesaikan masalah melalui jalur hukum.

Keenam, Siaga Bencana Sukabumi. Mengingat Sukabumi merupakan daerah rawan longsor dan gempa, RIB menyiapkan tim relawan siaga yang siap bergerak ketika bencana datang.

Bukan Tentang Besar Kecil Bantuan

Ketua RIB Lutfi Imanullah menegaskan, gerakan ini tidak berorientasi pada nilai materi. Ia lebih menekankan pada nilai kehadiran dan ketulusan.

“Kami sadar, apa yang kami bawa tidak seberapa. Tapi kami belajar dari warga, bahwa kadang yang mereka butuhkan bukan hanya beras, tapi ada yang datang mengetuk pintu dan bertanya, ‘Ibu sehat?’ Itu saja sudah membuat mereka menangis,” tuturnya.

Ia pun mengajak semua pihak untuk terlibat. Pintu kolaborasi dibuka lebar bagi pemerintah, pelaku usaha, hingga warga biasa yang ingin menitipkan sebagian rezekinya.

“Kami di RIB hanya menjadi perantara. Menjadi jembatan kecil antara dermawan dengan warga yang membutuhkan. Semua akan kami sampaikan secara amanah, terdokumentasi, dan bisa dipertanggungjawabkan,” ucapnya.

Dengan gerakan tahunan ini, RIB DPC Sukabumi berharap bisa ikut merawat wajah Sukabumi yang ramah, peduli, dan berkemanusiaan. Bukan Sukabumi yang viral karena konflik, tapi Sukabumi yang dikenal karena warganya saling menjaga.

“Kami ingin Sukabumi dikenal karena kebaikannya, bukan karena amarahnya. Mari kita rawat bersama,” tutupnya.

Report. : Wihanda